Contoh surat pengakuan hutang

Surat pengakuan hutang adalah pernyataan sepihak dari peminjam bahwa ia berutang sejumlah uang kepada pihak lain, berasal dari transaksi tertentu, dan berjanji melunasinya pada waktu atau dengan cicilan tertentu. Surat ini sering dibuat untuk utang yang sebelumnya tidak tertulis, atau setelah perhitungan bersama tentang sisa utang.

Diperbarui:

Tulis asal utang (pinjaman, pembelian barang, kerugian) agar jelas dasar tagihannya.

Surat yang dibuat di bawah tekanan dapat dibatalkan. Buat dengan tenang dan hadirkan saksi.

Kapan surat ini dipakai

  • Utang lama yang belum pernah ditulis.
  • Setelah menghitung sisa utang bersama.
  • Utang karena menyebabkan kerugian.
  • Utang dagang yang belum dibayar.

Isi yang wajib ada

  • Identitas yang berutang dan yang berpiutang.
  • Jumlah utang dan asalnya.
  • Janji dan jadwal pelunasan.
  • Akibat jika tidak dibayar.
  • Tanggal, meterai, dan saksi.

Contoh siap salin

SURAT PENGAKUAN HUTANG

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama: [NAMA], NIK: [NIK], alamat: [ALAMAT], pekerjaan: [PEKERJAAN].

Dengan ini mengakui bahwa saya mempunyai utang kepada [NAMA KREDITUR], NIK [NIK], alamat [ALAMAT], sebesar Rp[JUMLAH] ([TERBILANG] rupiah), yang berasal dari [ASAL UTANG: pinjaman uang tanggal TANGGAL / pembelian barang / penggantian kerugian atas KEJADIAN].

Saya berjanji melunasi utang tersebut [sekaligus paling lambat tanggal TANGGAL / dengan cicilan Rp JUMLAH setiap bulan mulai TANGGAL sampai lunas].

Apabila saya tidak memenuhi janji tersebut, saya bersedia diselesaikan menurut hukum yang berlaku dan utang ini mengikat ahli waris saya.

Surat pengakuan ini saya buat dengan sadar, tanpa paksaan dari pihak mana pun.

[KOTA], [TANGGAL]

Yang membuat pernyataan: _______________ ([NAMA]) — meterai Rp10.000
Yang berpiutang: _______________ ([NAMA])
Saksi: 1. _______________ 2. _______________

Dasar hukum: KUHPerdata Pasal 1754 dan seterusnya.

Cara mengisi, langkah demi langkah

  1. Hitung bersama jumlah utang yang tersisa.
  2. Tulis asal utang dengan jelas.
  3. Tentukan jadwal pelunasan.
  4. Tanda tangani di atas meterai dengan saksi.
  5. Berikan kuitansi untuk setiap pembayaran.

Kesalahan yang sering bikin masalah

  • Tidak menulis asal utang.
  • Dibuat dengan tekanan atau ancaman.
  • Jumlah berbeda dengan catatan sebelumnya.
  • Tidak ada jadwal pelunasan.

Untuk menyelesaikan dokumen

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya pengakuan hutang dan perjanjian hutang piutang?

Pengakuan hutang dibuat oleh pihak yang berutang; perjanjian hutang piutang disepakati dan ditandatangani kedua pihak dengan hak dan kewajiban masing-masing.

Apakah surat pengakuan hutang kuat di pengadilan?

Ya, sebagai bukti tertulis, apalagi dengan meterai, saksi, dan bukti transfer pendukung.

Bolehkah dibuat tulisan tangan?

Boleh. Tulisan tangan sendiri justru sulit disangkal.

Contoh di halaman ini adalah teks acuan, bukan nasihat hukum. Ketentuan bisa berbeda menurut kasus dan daerah; untuk perjanjian bernilai besar atau keadaan yang rumit, mintalah notaris atau advokat memeriksanya sebelum ditandatangani.